"MEMBELA YANG LEMAH DENGAN CARA MEMPERSEKUSI SI PENINDAS"(?)
Apakah pejabat yang korup bukan rakyat?
Apakah para pamong desa yang mengalokasikan dana desa seenak jidat bukan rakyat?
Apakah para aparat keamanan yang mengatas namakan undang undang guna kepentingan pribadi bukan rakyat?
Jika pandangan terhadap demokrasi masih saja seperti itu, mungkin sila ke tiga dan ke lima "persatuan indonesia" dan "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia" tetap akan menjadi mitos belaka.
Dewasa ini cukup sering terdengar betapa hebat dan "wah" nya demokrasi itu, sehingga cukup mengejutkan jika filsuf sebesar Aristoteles menyebutnya sebagai sistem yang buruk. Dalam bukunya "The Politics" mengatakan:
"Penyimpangan dari yang disebut tadi adalah tirani dari kerajaan, oligarki dari aristokrasi dan demokrasi dari politi. Tirani adalah monarki dengan pandangan untuk kepentingan kepala negara, oligarki dengan pandangan untuk kepentingan orang-orang kaya, demokrasi dengan pandangan untuk kepentingan mereka yang miskin; tak satu pun dari ketiganya yang berpandangan untuk perolehan umum." (AP 1279b(96))
Gimana? Masih mau dengan mudah dan gampangnya beragumen tentang sistem negara?
Komentar
Posting Komentar